Akademisi

Ancaman Ekonomi Rumah Tangga dalam Masa Pandemi Covid -19

Ancaman Ekonomi Rumah Tangga dalam Masa Pandemi Covid -19

Penulis: Ririn Sari Dewi – Dosen D3 Akuntansi Universitas Pamulang

Awal mula muncul pandemi Covid-19 menjadi ancaman bagi ekonomi rumah tangga menengah kebawah, pasalnya pelaku ekonomi yang berdampak banyak dirasakan oleh pelaku ekonomi rumah tangga menengah kebawah, seperti pedagang kecil keliling, ojek online, ojek pangkalan, pekerja shift, dan pedagang makanan yang notabene hanya mengandalkan penghasilannya dari pekerjaan yang dikerjakan atau dari laba penjualannya.

“Ekonomi” atau “Oikosnamos” dan “Oikonomia” dapat diartikan sebagai manajemen urusan rumah tangga. Abdullah (1992:5) dalam bukunya yang di kutip dari Albert L. Meyers disebutkan bahwa ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang membahas tentang kebutuhan dan alat pemuasan kebutuhan manusia. Kesimpulan dari penjelasan pengertian ilmu ekonomi tersebut menjadi dua kata kunci, yaitu: Kebutuhan dan Pemuas Kebutuhan. Kebutuhan disini yaitu barang atau jasa yang diperlukan manusia yang tidak ada batasnya. Pemuas kebutuhan disini yaitu barang atau jasa yang jumlahnya terbatas.

Kesimpulan dari penjelasan tersebut, karena adanya kebutuhan manusia terhadap barang atau jasa yang tidak ada batasnya, sedangkan alat yang diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan bersifat langka atau terbatas. Oleh karena itu muncul permasalahan dalam perekonomian.

Masalah ekonomi yang terjadi pada masa pandemi Covid-19 sangat dirasakan oleh berbagai sektor, terutama sektor rumah tangga. Tekanan ekonomi masih dirasakan para pelaku ekonomi di sektor rumah tangga saat akan menghadapi masa New Normal. Keadaaan perekonomian akan kembali normal jika pemerintah dan masyarakat saling mendukung, gotong royong, bahu membahu bersama menghadapi tekanan ekonomi akibat dari Covid-19. Menjelang berakhirnya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan dalam salah satu penanggulangan Covid -19, dan sebagai salah satu cara pemutusan mata rantai penyebaran virus, masih menyisakan tekanan ekonomi yang luar biasa.

Sejak dikeluarkan kebijakan (PSBB), dampak ekonomi sebenarnya sudah terlihat pada para pelaku ekonomi menengah kebawah, di tambah ada batasan untuk tidak keluar rumah, menambah kesulitan bagi mereka mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya, mengingat pengahasilan yang didapat tidak sebanding dengan penghasilan sebelum PSBB. Banyak terjadi penurunan pengahasilan dari usaha penjualannya. Karyawan perusahaan ataupun karyawan pabrik  juga harus menanggung keputusan pemberhentian karyawan (PHK).

Berdasarkan data Kemenaker per 1 mei 2020, jumlah pekerja sektor formal yang telah dirumahkan akibat pandemi Covid-19 sebanyak 1.032.960 orang dan pekerja sektor formal yang di-PHK sebanyak 375.165 orang. Sedangkan pekerja sektor informal yang terdampak Covid-19 sebanyak 314.833 orang. Total pekerja sektor formal dan informal yang terdampak Covid-19 sebanyak 1.722.958 orang. Ada juga 1,2 juta pekerja yang diproses tahap verifikasi dan validasi sehingga total sekitar 3 juta pekerja yang terdampak.

Padahal mereka yang terdampak bukan hanya pangan saja, melainkan hal lainnya juga ikut dipengaruhi dari mulai bayar cicilan motor, bayar kontrakan, bayar listrik, bayar sekolah anak, hingga kebutuhan sehari hari tidak bisa dicukupi selama masa pandemi ini. Walaupun pemerintah sudah memberikan keringan serta membebaskan cicilan selama 1 tahun dan menggratiskan biaya listrik, tetap saja kebutuhan sehari-hari tidak tercukupi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyebutkan bahwa terdapat empat sektor yang paling tertekan akibat wabah virus corona atau Covid-19, yaitu rumah tangga, UMKM, korporasi, dan sektor keuangan. Pertumbuhan ekonomi pun diprediksi akan mengalami kontraksi. Sektor rumah tangga akan mengalami tekanan dari sisi konsumsi, karena masyarakat sudah tidak beraktifitas diluar rumah, daya beli pun menurun. Tidak hanya itu, sektor rumah tangga juga terancam kehilangan pendapatan karena tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan, terutama bagi keluarga miskin dan rentan di sektor informal.

Tidak sedikit bantuan yang telah diberikan oleh pemerintah dalam masa pandemi Covid-19. Selain bantuan dari pemerintah, juga banyak donatur dan relawan yang ikut menyalurkan dana dan kebutuhan pokok untuk masyarakat yang terdampak. Namun, tetap saja belum tersalurkan dengan  merata kepada masyarakat yang terdampak. Pasalnya masih terdapat beberapa keluarga yang kelaparan dan kekurangan pangan, karena minimnya data akurat terkait dengan data masyarakat ekonomi menengah kebawah yang terkena dampak Covid-19.

Hal ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah yang harus tegas dalam mendelegasikan kepada perangkat desa yang wajib melaporkan data warga yang tidak mampu sesuai kelompok klaster, sehingga penyaluran bantuan bisa dilakukan dengan tepat sasaran di kawasan yang berzona merah ataupun yang masih dalam kondisi aman namun juga terdampak karena PSBB. Data yang tercatat harus akurat dan bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat yang terdampak akan tersalurkan dengan baik sesuai data yang tercatat di dalam laporan.

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *