Akademisi

Mengulik Nasib Mal di Era New Normal

Mengulik Nasib Mal di Era New Normal

Penulis: Rr Renny Anggraini, S.E., M.M. – Dosen Prodi Manajemen Universitas Pamulang

Pada tanggal 4 Juni 2020 Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi untuk menghadapi era new normal. Era New Normal adalah istilah untuk menamakan suatu kehidupan “baru” yang boleh dilakukan di luar rumah dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti memakai masker pada saat keluar dari rumah, mencuci tangan, menghindari kontak fisik dengan orang lain, menjaga jarak dengan orang lain apabila ada di tempat umum dan selalu menjaga kebersihan diri setiap saat. Hal ini tentu menjadi “angin segar” bagi sebagian besar orang setelah sebelumnya rehat dari segala aktivitas yang dilakukan di luar rumah dan berkegiatan penuh dari dalam rumah, baik itu bekerja dari rumah (Work from Home), belajar dari rumah (School from Home), seminar dari rumah (webinar) yang tentunya menimbulkan kejenuhan yang sangat besar dalam diri mereka. Era new normal juga menandakan bahwa pusat–pusat perbelanjaan, tempat wisata, pasar sudah bisa dibuka dan dikunjungi oleh masyarakat umum.

Pusat perbelanjaan menjadi salah satu bidang usaha yang terdampak cukup parah akibat adanya pandemi Covid-19. Mal dan toko-toko terpaksa harus ditutup guna menghindari penyebaran virus Corona yang keberadaannnya sudah semakin mengkhawatirkan di seluruh Indonesia. Hal ini mengakibatkan para pelaku usaha terpaksa mengambil keputusan untuk merumahkan sebagian besar karyawannya untuk sementara waktu sampai usaha mereka diijinkan untuk beroperasional kembali. Pandemi Covid-19 juga memaksa pelaku usaha menutup total usahanya karena ketidaksanggupan mereka untuk bertahan ditengah situasi krisis seperti yang saat ini terjadi.

Pada tanggal 15 Juni 2020 pemerintah daerah DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk membuka sejumlah mal di DKI Jakarta. Pada awalnya banyak masyarakat yang menentang keputusan tersebut karena mereka mengkhawatirkan penularan virus Corona yang terjadi di dalam mal akibat penggunaan AC di ruangan tertutup memudahkan virus dapat menginfeksi banyak pengunjung mal. Namun pemerintah bersikukuh dengan kebijakan yang telah diputuskan demi untuk memperbaiki roda perekonomian masyarakat.

Sebanyak 80 mal sudah diperbolehkan untuk membuka pintunya bagi para pengunjung dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Adapun protokol kesehatan yang harus dipatuhi bersama oleh seluruh pengunjung mal yaitu jaga jarak antrian masuk mal dengan jarak 1 meter, memakai masker, suhu tubuh harus dibawah 37,5 derajat celcius, kapasitas lift hanya untuk 6 orang dengan posisi menjaga jarak selama di dalam lift, jarak antara orang di eskalator adalah 3 step anak tangga, pembayaran menggunakan cashless, pengunjung restoran dibatasi kapasitasnya yaitu hanya 50%, dan lain-lain.

Hari pertama mal dibuka pengunjung masih sepi. Para pemilik toko harus putar otak untuk mencari strategi menggaet pengunjung berbelanja di tokonya. Bermacam cara dilakukan, salah satunya dengan mengadakan promo diskon cuci gudang. Namun pemilik usaha menyatakan tidak akan memberikan promo dengan potongan harga yang terlalu besar karena dikhawatirkan jumlah pengunjung mal masih tetap sedikit sehingga keuntungan tetap tidak didapatkan. Hari kedua dan seterusnya situasi tidak banyak berubah, mal masih tetap sepi dari pengunjung. Keberadaannya saat ini seolah diacuhkan oleh masyarakat.

Banyak faktor yang menyebabkan mal tidak kunjung dipadati konsumen. Pandemi virus Corona yang belum usai, pendapatan menurun karena pemutusan hubungan kerja, faktor ekonomi yang tidak stabil, kenyamanan pengunjung terganggu karena banyaknya protokol kesehatan yang harus dipatuhi, dan pelayanan mal yang kurang maksimal karena tidak semua toko diijinkan untuk buka. Banyaknya pemutusan hubungan kerja sangat mempengaruhi keadaan perekonomian saat ini. Penurunan pendapatan mempengaruhi permintaan kebutuhan sekunder. Saat ini masyarakat lebih memprioritaskan untuk membeli kebutuhan primer seperti bahan pangan yang dirasa lebih penting daripada membeli baju yang merupakan kebutuhan tambahan bagi seseorang. Pengelolaan keuangan yang lebih cermat banyak dilakukan oleh masyarakat supaya kelangsungan hidup mereka dapat terjaga. Membeli baju, membeli makanan jajanan, menonton bioskop, atau sekedar minum di kedai kopi menjadi barang langka yang bisa terjadi saat ini.

Maka dari itu sudah sepatutnya pemerintah segera membuat kebijakan baru untuk membantu para pelaku usaha dapat tetap bertahan di situasi sulit ini. Dukungan moril dan materiil sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan semangat mereka menghadapi ketidakstabilan ekonomi saat ini. Situasi sulit yang menyengsarakan masyarakat. Situasi sulit yang kita tidak tahu kapan akan berakhir.

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *